Tampilkan postingan dengan label Dalang Kerusuhan 1998. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalang Kerusuhan 1998. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Mei 2014

Membongkar Fitnah Mei 1998

Saat kerusuhan di Jakarta terjadi, Wiranto justru sengaja pergi ke Malang  untuk acara serah terima PPRC dari Divisi I ke Divisi II yg sebetulnya acara rutin yg bisa diwakilkan.
Wiranto mengajak komandan-komandan seperti Danjen kopasus, komandan Marinir, dll. Lebih mencurigakan lagi sebenarnya Prabowo sudah berulang kali menghubungi Wiranto untuk membatalkan kepergiannya. Wiranto menjawab “Show must goon”. Ini mirip dengan Soeharto tahu akan gerakan 30 September namun sengaja tidak melakukan tindakan apapun untuk mencegahnya. 8x Prabowo mencoba menelpon, tapi tidak diangkat Wiranto.

Saat Jakarta rusuh pun harusnya Wiranto tahu dan bisa segera kembali ke Jakarta kurang dari 2 jam dgn menggunakan pesawat Hercules, dsb. Namun Wiranto tidak melakukan itu. Membiarkan Prabowo yang cuma Pangkostrad untuk berhadapan dgn kerusuhan yang seperti direkayasa. Sbg Pangkostrad, Prabowo tidak punya akses ke Polri.

Senin, 12 Mei 2014

Dalang Kerusuhan 1988: Wiranto, Prabowo, atau LB Moerdani?


Saya lihat tulisannya "masuk akal". LB Moerdani adalah mantan Panglima ABRI merangkap Menhankam dan Pangkopkamtib. 3 Jabatan penting dan terkuat dalam militer dan keamanan dia kuasai. Jarang ada jenderal di Indonesia seperti ini. Karirnya juga sbg perwira Intelijen yang ahli dalam membuat gerakan2 rahasia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Leonardus_Benyamin_Moerdani

Ternyata LB Moerdani diberhentikan oleh Soeharto. Jadi bisa disebut Barisan Sakit Hati yang punya motif untuk membuat kerusuhan agar Soeharto jatuh. Sementara Wiranto dan Prabowo yang di zaman Soeharto naik daun, justru tidak ada alasan berbuat rusuh. Soeharto pun begitu. Sejelek2nya Diktator, dia tidak akan mau membuat negaranya rusuh karena jika rusuh, dia juga bisa terpental. Dan Prabowo meski pangkatnya cuma Kapten, pernah merencanakan menculik Moerdani dgn tuduhan makar (menurut Sintong Panjaitan):