Senin, 16 Juni 2008

Penyapu Jalan Tewas Kelaparan

Mungkin inilah korban pertama kenaikan harga BBM yang mati kelaparan dan diberitakan di media massa. Penghasilan RP 750 ribu per bulan yang harus dibagi untuk 5 anggota keluarga tentulah tidak cukup untuk wilayah kota Bogor.



Jelas mereka tidak mendapat BLT yang digembar-gemborkan pemerintah mencakup 19,1 juta keluarga. Banyak juga buruh yang tidak mendapat BLT.



Apakah penyapu jalan ini jadi korban terakhir atau masih ada lagi yang lainnya? Hanya kepada Allah kita tawakkal. Semoga pemimpin kita mendapat petunjuk sehingga bisa mengayomi rakyatnya dengan baik.



Penyapu Jalan Tewas Kelaparan


Rabu 4 Juni 2008, Jam: 8:18:00


BOGOR (Pos Kota) – Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang penyapu jalan tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6) siang.



Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.



Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat jasad sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak malam.



Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan yang hanya Rp750 ribu.



Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa menyisihkan dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. “Biaya hidup dengan tiga anak sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu sebulan,” kata Neglasari saat berada di ruang forensik rumah sakit.



CUMA MINUM AIR PUTIH


Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini mengaku untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka makan sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk semua, ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.



“Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya, sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya minta dari warga,” paparnya.



Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak makan. Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga anaknya yang mengaku sedang lapar.



Baca artikel selanjutnya di:


http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=39156&ik=3


2 komentar:

  1. Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com
    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com/penyapu_jalan_tewas_kelaparan

    BalasHapus
  2. lagu tentang kemiskinan...cek di http://www.youtube.com/watch?v=gcPHoyAM0nA

    regard
    icool

    BalasHapus