Minggu, 02 Maret 2008

Harga Internasional, Penghasilan Lokal: Ibu dan Anak Mati Kelaparan di Makassar

Berbagai kenaikan harga barang termasuk pangan di Indonesia yang ”mengikuti” harga Internasional di Pasar Singapura dan New York akhirnya menimbulkan korban jiwa yang mati akibat kelaparan.



Hari Sabtu 2 Maret 2008 di Indosiar dan SCTV diberitakan seorang ibu yang tengah hamil 7 bulan dan anaknya yang berusia 5 tahun mati kelaparan di Makassar, sementara anaknya yang berumur 4 tahun dalam keadaan kritis di Rumah sakit karena kelaparan. Suaminya yang tukang becak juga dirawat di Rumah Sakit karena kelaparan.



Ini karena para pengusaha, ekonom yang mempengaruhi kebijakan pemerintah, dan pemerintah selalu mengacu pada ”Harga Internasional” yang ada di Pasar Singapura dan New York. Mereka tak sadar bahwa penghasilan mayoritas rakyat Indonesia tidak setinggi penghasilan rakyat Singapura dan warga New York. Akibatnya karena tak mampu membeli pangan, sebagian rakyat Indonesia mati kelaparan. Menurut VHR Media, 50.000 rakyat Indonesia bunuh diri karena kemiskinan selama 3 tahun.



GNP per kapita rakyat Singapura per tahun US$ 21.230, rakyat AS US$ 37.870, sementara Indonesia hanya US$ 810. Penghasilan mereka 26 kali lipat lebih banyak dari rakyat Indonesia. Jadi kalau rakyat Indonesia dipaksa membeli barang/makanan dengan harga sama seperti di Singapura dan AS, niscaya rakyat Indonesia KO dan berguguran. Sebagai contoh, jika biaya minimal kebutuhan pangan besarnya US$ 5.000 per tahun, maka penduduk Singapura dan AS bisa membelinya dan masih dapat menabung US$ 16.000 lebih per tahun. Namun penduduk Indonesia tidak mampu. Mereka hanya dapat membeli sebanyak US$ 810 atau kurang dari 1/6 kebutuhan minimal. Tak heran jika banyak penduduk Indonesia kelaparan.



Apalagi pendapatan keluarga yang ada di Makassar itu tidak sampai US$ 810 per tahun. Dalam sebulan paling hanya Rp 300.000 (kalau penghasilan masih Rp 500 ribu per bulan masih belum mati kelaparan) atau kurang dari US$ 32 per bulan. Dengan 4 anggota keluarga, maka ”GNP per capita” keluarga tukang becak tersebut hanya US$ 96 per tahun!



Berbagai berita tentang kemiskinan rakyat Indonesia sehingga anak SD umur 11 tahun bunuh diri karena tidak tahan sakit maag yang diderita akibat hanya bisa makan 1 kali sehari, dsb bisa dibaca di sini:


http://infoindonesia.wordpress.com/category/kemiskinan



Meroketnya harga beras hingga Rp 5.000/kg dan kedelai dari Rp 3.500/kg menjadi Rp 8.000/kg disertai dengan hilangnya minyak tanah bersubsidi (kompor dan tabung gas cukup mahal bagi mereka) membuat kehidupan warga miskin cukup sulit. Minimal untuk makan ”MENTAH”, keluarga dengan 4 anggota keluarga harus mengeluarkan Rp 400.000 per bulan. Pemerintah tak mampu memberi subsidi langsung karena kebocoran, kurangnya disiplin petugas (pembagian beras untuk orang miskin paling cuma 2-3 bulan sekali), serta lokasi sebagian warga miskin yang cukup terpencil.



Pemerintah sepertinya kurang peka terhadap kemiskinan yang diderita sebagian warganya. Kenaikan harga BBM yang bertubi-tubi disertai kenaikan tarif tol akhirnya memicu kenaikan harga-harga barang lainnya. Kalau ada yang demo, paling cuma sebenar. Mungkin begitu pikir pemerintah. Ada segelintir demonstran yang memprotes kenaikan harga, namun diabaikan. Mayoritas rakyat sendiri tidak melakukan demonstrasi karena sudah apatis. Untuk apa capek-capek demo toh tidak akan didengar.



Kenaikan harga barang yang terus menerus apalagi besar kenaikannya sampai begitu tinggi (30% lebih per tahun) akan semakin memiskinkan rakyat karena pendapatan rakyat belum tentu naik lebih dari 5% per tahun. Rakyat yang dulunya tidak miskin, dengan kenaikan harga barang yang tinggi dan terjadi terus menerus bisa saja sekarang tergolong miskin.



Saya akan mencoba agar tulisan ini tidak sekedar mengemukakan fakta yang ada. Tapi sebisa mungkin menganalisa penyebabnya sambil berusaha memberikan solusinya.



Harga minyak goreng di dalam negeri naik karena harga Internasional naik, begitu pernyataan yang sering kita dengar. Kalau kita tidak menghasilkan kelapa sawit dan minyak goreng sebagai turunannya hal ini wajar karena kita harus beli dari luar negeri dengan harga Internasional. Tapi kita punya banyak kelapa sawit dan pabrik minyak goreng sehingga merupakan eksportir terbesar di dunia. Kenapa harga minyak goreng di dalam negeri harus mahal? Harga minyak goreng meroket dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 11.000/kg hanya dalam tempo kurang dari 6 bulan. Dan sekarng minyak goreng melonjak jadi RP 12.000/kg.



Tidak bisakah pengusaha kelapa sawit dan minyak goreng di Indonesia menjual produk mereka seharga Rp 12.000/kg di luar tapi di dalam nengeri cukup Rp 8.000/kg?



Memang sulit untuk merubah pola pikir kapitalis. Kalau bisa untung lebih, kenapa harus kurang? Ini bisnis bung! Ini pola pikir standar para kapitalis.



Untuk itu pemerintah harus berani bertindak tegas. Memang ini sangat sulit mengingat sebagian pejabat sendiri justru adalah kapitalis bahkan ada yang menjadi pengusaha perkebunan kelapa sawit. Perlu kesadaran yang tinggi dari pemerintah untuk ini. Pada kasus Minyak Goreng, pemerintah hanya bisa mengenakan pajak Ekspor sebesar 10%. Artinya kalau di luar negeri harganya Rp 12.000/kg, maka di dalam negeri masih Rp 12.000-(10%x12.000) atau Rp 10.800/kg. Meski pemerintah menghilangkan PPN sebesar 10%, harganya tetap segitu



Agar harga minyak goreng bisa turun hingga Rp 8.000/kg, minimal pemerintah mengenakan Pajak Ekspor sebesar 35%. Tapi mampukah pemerintah melakukan itu? Terhadap warga miskin mungkin pemerintah bisa bertindak tegas misalnya dengan menggusur rumah mereka. Tapi terhadap pengusaha berduit di mana beberapa di antaranya bahkan ada yang jadi menteri, apa bisa? Di perlukan pemimpin yang kuat untuk ini.



Pajak Ekspor bisa dikenakan pada produk-produk lain yang sangat penting bagi rakyat banyak. Selain bisa membuat harga lokal semakin murah, juga meningkatkan pendapatan negara dari sektor pajak.



Untuk kasus kedelai yang meroket harganya dari Rp 4.000/kg menjadi Rp 8.000/kg kasusnya agak sedikit lain. Tidak seperti kelapa sawit dan produk turunannya, 60% kedelai diimpor dari AS oleh segelintir importir. Meski ada yang bilang kenaikan harga terjadi karena harga di luar negeri naik, tapi para pengusaha tahu dan tempe menuduh kenaikan harga terjadi karena permainan kartel importir kedelai.



Solusi dari ini adalah Indonesia harus memproduksi kedelai sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Sebetulnya Jawa adalah tempat yang ideal untuk menanam kedelai. Namun pulau Jawa saat ini 7 kali lipat lebih padat dari Cina. Pulau Jawa yang luasnya 134.000 km per segi jika dibagi rata ke semua penduduknya yang berjumlah 135 juta jiwa, maka luas lahan yang didapat hanya kurang dari 0,1 hektar untuk tiap orang. Jadi pulau Jawa harus ”dikurangi” jumlah penduduknya agar setiap orang bisa bertani dengan luas lahan yang cukup. Caranya adalah dengan memindahkan ibukota negara Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Tengah (lihat artikel pemindahan ibukota di www.infoindonesia.wordpress.com). Pulau lain yang bisa jadi alternatif penanaman adalah Sumatera dan Sulawesi.



Pembukaan lahan pertanian/perkebunan baru selain agar rakyat Indonesia tidak kekurangan pangan juga berfungsi untuk membuka lapangan kerja sebagai petani/pekebun. Ini bisa meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia.



Kemudian satu lagi penyebab kenapa rakyat miskin ada yang kelaparan hingga bunuh diri atau mati kelaparan, yaitu gagalnya pola subsidi langsung yang dilakukan oleh pemerintah.



Di negara maju atau kaya di mana jumlah penduduk miskin jumlahnya sedikit (kurang dari 10%), mungkin subsidi langsung lebih tepat. Tapi di negara Indonesia yang mayoritas rakyatnya miskin (paling tidak 50%), pola subsidi langsung sulit diterapkan. Apalagi tingkat korupsi di Indonesia masih cukup tinggi sehingga rawan kebocoran. Selain itu banyak penduduk yang tinggal di daerah-daerah terpencil seperti di sawah atau bahkan pedalaman di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Biaya pengiriman subsidi langsung bisa lebih besar dari jumlah subsidi yang diberikan. Penjualan beras raskin selain jarang juga sering mengakibatkan anak-anak dan orang tua terinjak-injak karena rebutan.



Oleh karena itu untuk produk yang sangat vital bagi masyarakat misalnya beras dan kedelai, lebih baik pemerintah mensubsidi untuk semua. Sehingga harganya terjangkau di seluruh pasar dan dapat dibeli warga miskin. Untuk mencegah orang-orang kaya membeli beras dan kedelai yang disubsidi, pemerintah bisa menetapkan hanya beras kedelai kualitas terendah saja yang disubsidi. Tapi hendaknya kualitas terendah ini masih manusiawi. Artinya tetap nyaman dan sehat untuk dimakan. Jangan yang bulukan dan bau karena justru menyengsarakan rakyat miskin.



Untuk mengembalikan subsidi yang diterima oleh para orang kaya, pemerintah bisa menerapkan pajak kekayaan bagi penduduk yang harta kekayaannya mencapai lebih dari Rp 2 milyar sebesar 2,5% per tahun.



Untuk subsidi premium juga pemerintah bisa mengatur agar angkutan umum plat kuning dan juga truk-truk pengangkut bahan pangan bisa menikmati nya. Jika tidak, maka harga pangan akan melonjak. Untuk kendaraan pribadi, diharuskan membeli Pertamax.



Kebijakan pemerintah untuk meminta rakyat agar hemat BBM juga keliru karena konsumsi BBM di Indonesia sudah cukup rendah. Semakin rendah pemakaian BBM justru menunjukkan kurangnya produktivitas satu negara. Semakin banyak kantor dan pabrik yang tutup, maka pemakaian BBM akan makin sedikit bukan?



Negara-negara yang perekonomian dan industrinya maju justru banyak memakai BBM untuk mendukung perekonomian dan industri mereka meski mereka tidak punya sumber daya BBM. Contohnya Malaysia konsumsi BBMnya 7,8 barrel per kapita per tahun, AS 25,8, Singapura 59,5, Korsel 16,3, dan Jepang 15,6. Tiga negara terakhir tidak punya sumber daya BBM. Mereka cuma pembeli. Sebaliknya Indonesia yang mengekspor BBM justru konsumsinya hanya 1,7 barrel per kapita per tahun!



Akibat sulitnya mendapat BBM di dalam negeri, banyak perusahaan atau pabrik sulit beroperasi di Indonesia. Bahkan perusahaan-perusahaan asing selain enggan berinvestasi di sini karena listrik yang kurang dan sering padam, mereka yang sudah ada di sini memindahkan pabriknya ke luar negeri.



Berbagai cara mengurangi kemiskinan yang ada di http://infoindonesia.wordpress.com/2008/01/15/beberapa-langkah-mengurangi-kemiskinan-di-indonesia


ada baiknya dicoba. Memang keberhasilan sangat ditentukan oleh pelaksanaannya karena sebaik apa pun rencana jika pelaksanaannya buruk niscaya tidak akan jalan. Tapi ini layak untuk dicoba.



Menaikan harga barang terus-menerus sehingga terjadi lonjakan harga yang tajam, meminta rakyat untuk hemat dan hemat listrik dan BBM sementara konsumsi listrik dan BBM kita sudah termasuk paling rendah hingga mengurangi produktivitas, dan juga berbagai pajak yang dikenakan pada rakyat kecil (misalnya selain PBB pemerintah akan menerapkan Pajak ”Orang” yang mirip Pajak ”Kepala” Penjajah Belanda) sementara pemerintah hanya menerapkan pajak yang ringan pada pengusaha kaya (misalnya Pajak Ekspor Kelapa Sawit dan produk turunannya hanya 10%), membiarkan kekayaan alam (migas, emas, tembaga, dll) dikuras oleh perusahaan-perusahaan asing, tidak adanya upaya memberdayakan UKM, serta bunuh diri dan matinya warga karena kelaparan menurut saya merupakan kegagalan Tim Perekonomian dan juga Kesejahteraan Rakyat.



Berbagai kebijakan yang mereka buat, bukan mensejahterakan rakyat, namun justru memiskinkan rakyat. Oleh karena itu selayaknya Kepala Negara mengganti Menteri Perekonomian, Keuangan, Perdagangan, dan Kesejahteraan dengan orang yang lebih baik dan mampu.



Paham Neoliberalis yang memakai ”subsidi” langsung, privatisasi BUMN sehingga keuntungan BUMN lepas dari negara dan diterima segelintir kapitalis, menyerahkan kekayaan alam untuk kantong pengusaha MNC terbukti membuat segelintir orang berduit semakin kaya dan membuat mayoritas rakyat semakin miskin. Oleh karena itu hendaknya para menteri yang diangkat bukan dari kelompok Neoliberalis. Tapi yang peduli rakyat.


 


 




http://www.tribunkaltim.com/TRIBUN-KALTIM-TERKINI/Ibu-dan-Anak-yang-Mati-Kelaparan-Dimakamkan-di-Kebun.html



Ibu dan Anak yang Mati Kelaparan Dimakamkan di Kebun



MAKASSAR - Ibu hamil dan anaknya yang meninggal kelaparan, Basse (27) dan Bahir (5), dimakamkan di kebun, bukan di tempat pemakaman umum (TPU) Bantaeng. Apa boleh buat, tak ada biaya untuk memakamkan mereka.


"Saya kuburkan di kebun karena saya tidak punya biaya. Seandainya saya punya biaya, jangankan pekuburan, saat masih hidup saja saya pasti bawa ke rumah sakit," ujar suami Basse, Bahri (37), di RS Haji, Jl Daeng Ngepe, Makassar, Minggu (2/3), seperti dilansir detikcom.







http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.02.19074362&channel=1&mn=2&idx=6



Walikota Makassar: Politis, Sakit Diare Dikatakan Kelaparan


Minggu, 2 Maret 2008 | 19:07 WIB


Laporan wartawan Persda Network Hasanuddin Aco



KOTA Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel) gempar. Warganya, Ny Basse (27) yang tengah hamil tujuh bulan mati mengenaskan setelah tiga hari tidak makan (kelaparan), Jumat (29/2), akhir pekan lalu. Beberapa menit setelah dia menghembuskan nafas terakhir, putranya Bahir (5) juga meninggal. Satu anak Basse lainnya, Aco, kini dirawat di Rumah Sakit di Makassar karena diare akut, juga kelaparan.



Namun Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin membantah warganya meninggal karena kelaparan. Walikota yang hendak mencalonkan diri untuk kedua kalinya ini menganggap terlalu politis pernyataan yang mengatakan korban meninggal akibat kelaparan sebab menurutnya korban meninggal karena sakit diare.


 


 



http://smartkoko.wordpress.com/2008/03/02/warga-makassar-ada-yang-mati-kelaparan-koq-warga-yang-disalahkan



 




WARGA MAKASSAR ADA YANG MATI KELAPARAN, KOQ WARGA YANG DISALAHKAN ?



Tragedi kemanusiaan! Mati kelaparan di lumbung pangan! Sumbangsih dari kultur birokrasi yang korup, bodoh, dan lamban sekaligus gila hormat! Sumbangsih atas ketidakpedulian kita, individualisme, dan beberapa faktor lainnya. Bagaimanapun, jangan lagi hal seperti ini berulang dimanapun dan kapanpun. Insya Allah…



Banyak pihak yang terhentak dengan headline berita ini di koran-koran dan televisi. Diriku sendiri, keluarga dan kerabat kami, para petinggi yang hampir tak pernah merasakan kelaparan itu lagi. Mungkin satu-satunya bentuk kelaparan fisik yang kami alami adalah saat bulan Ramadhan tiba, itupun kami yakin ada batasnya kami akan berbuka, dan itupun untuk sebulan saja lamanya. Dan mungkin karena itu pula kami lupa dan lalai bahwa kelaparan itu memang nyata adanya, di suatu tempat dan bukannya di negeri antah-berantah, entah berapa banyak saudara kami yang menderita dan sedang meregang nyawa. Entah karena penyakit, entah karena kelaparan, atau apa saja derita mereka. Astaghfirullah…



Makassar, yang katanya kota metropolitan di kawasan timur Indonesia, yang juga ibukota propinsi lumbung pangan, Sulawesi Selatan. Untuk sejenak bahkan saya merasa tak ada gunanya segala teori pembangunan yang kita pelajari dan kita anut, tak ada gunanya target pembangunan dicanangkan dengan menghabiskan begitu banyak porsi APBN dan APBD, bahkan tak ada gunanya pula segala bentuk berdemokrasi lengkap dengan tetek bengek Pemilu, Pilkada, atau apapun namanya, sementara disisi lain ada rakyat mati karena tidak makan.



Saya paham tidak ada yang ingin disalahkan dalam tragedi ini, tidak si korban kelaparan (yang sudah meninggal yaitu seorang ibu hamil dan anak bungsunya, sementara seorang anaknya kritis yang segera dilarikan ke rumah sakit, tidak pula ayahnya yang tidak mampu mencukupi keperluan dasar keluarganya), tidak tetangganya (karena dicap tidak memperhatikan sesama tetangganya, yang boleh jadi sama laparnya), tidak pula pemerintah (yang berdalih bahwa korban mati karena diare, bukan kelaparan, meski memang diare itu dapat disebabkan malnutrisi yang dipicu kelaparan juga, nah lho!). Jadi cukuplah pertikaian diplomatis diatas derita rakyat ini. Memalukan!



 


 




Kelaparan, Ibu Hamil Meninggal


(01 Mar 2008, 487 x , Komentar)


Laporan : Rahim dan Amiruddin


Disusul Putra Kedua, Anak Bungsunya Juga Kritis. MAKASSAR--Suasana di salah satu rumah yang terletak di Jalan Dg Tata I Blok 5, tampak lain dari biasanya. Puluhan warga di sekitar lorong itu, berkumpul dan tampak larut dalam suasana duka berbalut kesedihan.Salah seorang tetangga mereka, Dg Basse, 35, yang sedang hamil tujuh bulan, meninggal dunia bersama jabang bayi yang dikandungnya, sekira pukul 13.00 Wita. Tragisnya lagi, hanya berselang lima menit, Bahir, 5, anak ketiganya, juga menyusul meninggal.



Ibu dan anak ini meninggal akibat kelaparan setelah tiga hari tidak pernah menelan sebutir nasipun.


Hal sama nyaris menimpa, Aco, 4, anak bungsu mendiang Basse. Untung saja, sebelum ajal datang menjemput, warga sekitar bergegas membopongnya ke ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Haji.



Pada saat itu, kondisi Aco sudah sangat parah. Jangankan bergerak, mengedipkan kelopak matanya terlihat susah.



Basri, 40, suami dan ayah korban, yang sehari-harinya bekerja sebagai pengayuh becak, tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa tepekur menyaksikan orang-orang terdekat dan amat dicintainya, telah meregang nyawa satu persatu setelah ia tiba di rumah.



Satu-satunya yang dia mampu lakukan hanya “memboyong” jazad istri dan seorang anaknya ke kampung halamannya di Kassi, Kabupaten Bantaeng, dengan ditemani Baha, 7, anak keduanya. Sementara untuk menjaga anak bungsunya yang dibawa ke Rumah Sakit Haji, Basri hanya memercayakan kepada anak sulungnya, Salma yang baru berusia 9 tahun.



“Sehari-hari memang sering terdengar suara anak-anak itu menangis. Kalau keluar rumah, biasanya kita tanya kenapako menangis nak. Katanya, mereka lapar,” tutur Mina, 42, tetangga korban yang sempat ditemui, kemarin.



Penuturan Mina ini juga diperkuat dengan hasil pemeriksaan tim medis RS Haji yang menangani anak bungsu mendiang Basse. Dokter jaga UGD RS Haji, dr Putu Ristiya mengatakan, Aco positif menderita gizi buruk.



Saat baru tiba di rumah sakit, kata Putu, kondisi kesehatan anak itu mengalami dehidrasi berat. Beratnyapun hanya 9 kg. Nanti setelah diberi cairan dua botol, kondisinya agak membaik. “Padahal untuk anak seusia ini (Aco, red) berat idealnya 15-20 kg. Jadi, ini positif marasmus (gizi buruk),” kata Putu Ristiya.



Berpenghasilan Rp5 Ribu



Bagaimana sebenarnya kehidupan Basri dan mendiang Basse? Menurut penuturan Mina, selama ini, ekonomi keluarga pengayuh becak itu memang sangat memprihatinkan. Penghasilan yang diperoleh tiap hari rata-rata hanya Rp5 ribu hingga Rp10 ribu saja. Akibatnya, untuk membeli beras amat kesulitan.



“Kalau mereka beli beras satu liter, biasanya itu untuk mencukupi makan selama tiga hari. Sehari semalam mereka cuma bikin bubur satu kali,” tutur Mina.



Sedangkan rumah kos ukuran 4x10 meter yang ditempatinya juga hanya dibayarkan orang lain, Dg Dudding yang merupakan sahabat Basri. Untuk satu tahun, Dg Dudding membayar sewa ruma itu Rp1,6 juta. Lantai bawah ditempati Dg Dudding dengan istri dan anaknya. Sedangkan Basri dan keluarganya tinggal di lantai atas.



“Mereka juga baru lima bulan tinggal di sini. Sebelumnya mereka tinggal di Jl Bonto Duri,” lanjut Mina.


Hanya saja, Mina mengaku belum terlalu akrab dengan tetangganya itu. Sebab, suami korban sangat pendiam dan cenderung tertutup.



“Sebenarnya kami juga selalu ingin membantu, cuma suami dan istrinya itu jarang bicara. Jadi yang kita ajak bicara biasanya cuma anak-anaknya,” terang Mina.



Herman, tetangga korban lainnya juga menuturkan, warga sekitar masih jarang yang akrab. Selain pendiam, mereka juga sangat jarang bergaul. “Bahkan selama ini, mereka masih menggunakan KTP Bantaeng,” katanya.


Sementara istri Dudding, Hasna mengungkapkan, kehidupan keluarga Basri memang sangat memilukan.



Bayangkan, mereka makan tanpa sayur. “Paling kalau makan kuahnya pakai minyak bekas penggorengan. Karena tidak punya uang untuk beli ikan, mereka juga hanya makan garam. Saya tahu, sebab saya sering melihat mereka makan dan memberinya ikan,” ungkap Hasna.



 





 



 

2 komentar:

  1. semoga dengan peristiwa ini semua bisa iktibar dan memperbaiki kesalahan masing - masing tanpa harus saling menyalahkan
    itu saja

    BalasHapus
  2. Itulah Indonesia Pak,..Unik dan nyeleneh,...

    BalasHapus