Minggu, 06 April 2008

Jusuf Kalla: Beras Cukup, Apa yang Kurang? Jawab: Rakyat Tak Mampu Beli

Petani sedang memanen padinya


Di SCTV pagi tanggal 6 April 2008 diberitakan kunjungan Jusuf Kalla ke gudang beras. Bertumpuk-tumpuk karung beras ada di sana. JK dengan bangga berkata pada para wartawan: ”Ini beras cukup. Apanya yang kurang?”



”Tapi pak, banyak warga makan nasi aking dan kelaparan,” kata satu wartawan.



”Ah itu kan cuma di koran”, kata JK. ”Kan persediaan beras cukup. Dan pemerintah sudah memberikan beras raskin (Beras untuk orang Miskin)” kata JK.



Mungkin JK tidak tahu kalau beli beras itu harus pakai uang. Dengan harga beras sekitar Rp 6.000/kg, maka harga beras sudah tidak terjangkau lagi oleh rakyat miskin yang penghasilannya hanya Rp 5.000-10.000 per hari. Bahkan beras raskin pun harus dibeli dengan harga sekitar Rp 2.000/kg. Kadang harga tersebut dinaikan lagi oleh para petugas untuk ongkos. Bagi rakyat yang tak punya uang, tetap saja harta itu tidak terjangkau.



Jusuf Kalla mungkin tidak tahu kalau tidak semua warga kebagian beras raskin. Karena di Kalsel saja separuh warga miskin tidak terdaftar.



Mungkin Jusuf Kalla tidak pernah baca koran atau TV sehingga tidak tahu bahwa 5 juta anak di Indonesia kena gizi buruk/busung lapar di mana banyak di antara mereka mati karenanya.



JK mungkin tidak tahu warga sekampungnya, nyonya Basse dan anaknya mati kelaparan. Mungkin JK tidak tahu kalau banyak Balita di Aceh, NTT, bahkan Papua mati karena busung lapar.



Percuma jumlah beras berlimpah kalau harganya tinggi dan rakyat tidak mampu membelinya. Percuma ada pembagian beras raskin kalau separuh warga miskin tidak terdata dan mendapat beras raskin.



Pembagian beras raskin meski bisa meringankan tapi tidak mampu menyelamatkan separuh warga miskin kita karena selain separuh warga miskin tidak terdata, kriteria kemiskinan pemerintah (Rp 5.500/hari) pun sangat rendah sehingga banyak warga miskin tidak tergolong miskin versi pemerintah. Selain itu sebagai satu negara terkorup di dunia, banyak penyaluran beras raskin yang tidak sampai kepada warga miskin. Sering pembagian beras raskin berakhir dengan kerusuhan dan menimbulkan korban luka-luka karena tergencet/terinjak akibat rebutan jatah, terutama wanita dan anak-anak.



Pembagian beras raskin bukan solusi yang tepat. Solusi yang tepat adalah pemerintah harus membuat harga beras dan harga pangan lainnya terjangkau bagi rakyat.



Jika pemerintah lewat Bulog membeli gabah dari petani seharga Rp 2.000/kg, harusnya harga beras cukup Rp 3.500 saja per kg-nya. Bukan Rp 6.000/kg seperti sekarang. Pemerintah harus mengidentifikasi pelaku pasar yang memainkan harga beras dan menghukumnya.



Khalifah Umar ketika jadi presiden dulu rajin keliling dengan menyamar di malam hari untuk mengetahui keadaan warganya sehingga dia bisa dapat informasi langsung tentang keadaan rakyatnya. Bukan dari anak buahnya atau wartawan.



Ketika ada seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anaknya yang lapar, Umar segera menyesal dan merasa bersalah. Dia angkut sendiri karung berisi makanan dari gudang makanan ke rumah ibu tersebut.



Indonesia saat ini tidak butuh pemimpin yang menganggap matinya warga karena busung lapar cuma satu kasus atau kasuistis. Indonesia butuh pemimpin yang begitu tahu rakyatnya lapar, langsung menyesal dan segera datang secara pribadi untuk memberi makanan ke mereka. Karena itulah para pemimpin kita digaji besar dengan berbagai fasilitas kemewahan dengan uang rakyat agar bisa melayani rakyat dengan baik.


10 komentar:

  1. kalo pemimpin bangsa sudah tidak meu mendengar dan membaca di suratkabar apa yang terjadi dinegeri ini ya seperti itulah pemimpin kita, bangsa kita mungkin selalu salah memilih peminpin karena waktu kampanye senang diberi imbalan musik dangdut,uang, dan kaos yang dicuci udah molor. kapan bangsa kita sadar apabila kampanye-kampnye itu hanya janji2 manis yang diobral untuk menarik simpati, tidak akan karena bangsa kita haus akan hiburan dan unag yang diberikan secara gratis tapi setelah itu kita harus membayar penderitaaan selam 5 tahun kepemimpinan yang tidak ada gunanya, yang mungkin cuman makan gaji buta.

    Andaikan pemimipin kita seperti presiden Iran yang tidak perlu hidup mewah karena beliau sadar bahwa beliau bukan sebagai penikmat jabatan, tapi sebagai pelayan masayarakat yang harusnya mengutamakan masyarakatnya dulu sebelum mengutamakan perutnya sendiri.

    ya semoga pemimpin bangsa ini di pemilihan mendatang mendapatkan seorang yang benar - benar mau mengabdi untuk bangsa bukan sebagai benalu dan parasit pengeruk uang rakyat amin..

    Salam

    BalasHapus
  2. yups.. sebetulnya kita ini membutuhkan sosok negarawan sebagi pemimpin, bukan politikus ataupun ekonom dll. kita lihat hasil mereka yang lalu lalu, mereka mengagung-agungkan pencapaian yang didapat sesuai background profesi tapi ga ada yang berdampak secara signifikan bagi rakyat terutama rakyat kecil.

    BalasHapus
  3. Hal yang tidak kalah mengerikan adalah banyaknya lahan-lahan pertanian yang berubah menjadi pemukiman, perumahan, kantor dan bangunan-bangunan lainnya yang sama sekali tidak mendukung produksi beras.

    Ini sudah dalam kondisi kritis, jadi tidak mungkin mengubah perumahan dan gedung-gedung menjadi sawah kembali.

    Mungkin sudah saatnya pemerintah melakukan penelitian mendalam terhadap ribuan pulau indonesia yang nganggur kemudian diubah jadi sawah dan kebun (dg perhitungan teliti pastinya). Hitung-hitung, selain memproduksi pangan lebih besar (lebih bagus bisa ekspor), Indonesia juga bisa mengontrol pulau-pulau kecilnya. Ingat kasus sipadan-ligitan.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  4. Sangat Wajar sekali kalau JK (Jarang Kelaparan) tidak pernah merasakan bagaimana sakit sulit nya cari duit untuk beli beras..bagaimana harga diri bahkan nyawa hilang gara-gara upag 15 Ribu Perhari...karena dia dari Bayi terlahir dari Dinasty KALLA yang memang tidak pernah Jual Beli beras...kalau Bapak ke Sumatera tolong temui Masyarakat di Transmigarsi lihat apa yang mereke makan selama nuggu Hasil Panen mereka yang kalau di Jual tidak pernah Untung Nombok malah ada..

    Wahai Pemimpin Negara kami Dunia hanya sekecap ... Allah SWT akan meminta Pertangung jawaban kita semua sesuai Fungsi kita diatas Dunia...

    Wassalam..

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum,

    Terima kasih atas artikel ini, menggugah sekali. salut juga untuk keberanian penulis mengkritik Bapak Wapres.

    Saya pernah melihat sendiri dari jendela kereta listrik betapa banyak sawah-sawah yang sudah berubah menjadi perumahan dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta.

    BalasHapus
  6. susah kalo pemimpin kita bukan negarawan tapi pedagang ya macam inilah jadinya :D

    BalasHapus
  7. Gusti Allah, JK berbicara pasti tidak menggunakan hati nurani, pikiran, otak dan keadaan. bukti-y dengan santai JK menyebut ahhh itu hanya di TV.....sungguh ucapan itu sangat tidak pantas di ucapkan oleh seorang pemimpin. JK buka matalo lebar2x..klu perlu gw colok dulu biar melek, coba JK selama 1 bulan hidup denga uang 15000 yg harus menghidupi keluarga-y pasti setelah itu dia bicara beda..
    JK PEMIMPIN BIADAB TIDAK MENGHARGAI, MENYAYANGI, MENGASIHI, MENGAYOMI DAN MELINDUNGI MASYARAKAT

    BalasHapus
  8. Gw mah ga maksud bela siapa siapa disini, cuman cape aja banyak sekali gw liat artikel2 semacam ini, tapi lucu aja

    Kita berpendapat begini, ada fakta begini ada fakta begitu tapi siapa yang bener siapa yang boong?

    Gw mah dukung yang bener aja, kalau fakta2 ini bener adanya pasti negara kita ga akan acak2an seperti sekarang, masa kebohongan selalu menang, lucu kan?

    BalasHapus
  9. JK....JK....
    Koq nyalonin diri lagi di 2009.....
    Sutiyoso..??????????? sami mawon......
    Mega..??????? no way
    Gsdur....... gak ada bedanye......

    Gimana kalo kita impor presiden dan wakilnya dari Iran......?????

    BalasHapus
  10. Mungkin para pemimpin kita harus belajar hidup susah dulu. Berangkat kerja coba pake bus tanpa AC dan berdiri, makan pagi coba cuma makan ketela dan kopi pahit, puasa makan siang, makan malem cuma makan nasi dingin sama ikan asin. Kantor jangan di pasang AC, pulang lagi kali ini naik motor dan kehujanan. Sampe di rumah tidur di lantai tanpa bantal. Coba jalani dulu selama 1 bulan.
    Kalo semua pamer MOGE mbok sampe kapanpun nggak bakalan paham susahnya jadi orang kecil bin susah.

    BalasHapus